Kisruh Chelsea kembali meledak setelah Liam Rosenior dipecat pada 22 April 2026. Reuters melaporkan Chelsea memecatnya setelah lima kekalahan liga beruntun tanpa gol. Kekalahan 3-0 dari Brighton menjadi titik balik terakhir. The Guardian juga mencatat Rosenior bertahan hanya 106 hari di kursi pelatih. Ia datang dengan kontrak panjang sampai 2032, tetapi pergi jauh lebih cepat.
Pada awalnya, situasinya tidak tampak seburuk itu. Reuters menulis Rosenior sempat memulai masa tugasnya dengan empat kemenangan dan dua hasil imbang. Namun, semuanya berubah pada Maret. Chelsea lalu terjatuh ke salah satu rangkaian hasil terburuk dalam sejarah klub modern. Bahkan, peluang ke Liga Champions mulai memudar sangat cepat.
Kisruh Chelsea bukan cuma soal pelatih
Melihat data terakhir, masalah Chelsea jelas lebih besar daripada satu nama di bangku pelatih. Reuters menyebut tim ini kalah tujuh kali dalam delapan laga terakhir di semua ajang. The Guardian menulis dressing room kehilangan dukungan pada Rosenior. Itu berarti krisis ini sudah menyentuh hubungan manusia di dalam klub, bukan hanya urusan taktik.
Karena itu, menyebut Rosenior sebagai satu-satunya penyebab akan terlalu sederhana. Ia memang bertanggung jawab atas performa tim. Tetapi, laporan media besar menunjukkan masalah Chelsea sudah menumpuk dari atas sampai bawah. Ada tekanan dari pemain, kegaduhan ruang ganti, dan kebijakan klub yang belum stabil.
Kisruh Chelsea di ruang ganti: hubungan pemain dan pelatih retak
The Guardian melaporkan hubungan Rosenior dengan Enzo Fernández menjadi salah satu pemicu utama. Fernández sempat dicadangkan dua laga setelah serangkaian wawancara yang dianggap memberontak. Rosenior didukung klub saat itu, tetapi situasinya memunculkan terlalu banyak suara sumbang. Bagi ruang ganti sebesar Chelsea, satu konflik besar bisa merembet ke banyak arah.
Guardian juga menulis bahwa sebagian pemain berbahasa Spanyol kurang antusias terhadap Rosenior. Ada kesan ia tidak memiliki CV cukup kuat untuk mengontrol para pemain mahal dan berpengalaman. Di titik inilah masalah ruang ganti menjadi sangat penting. Ketika otoritas pelatih dipertanyakan, setiap keputusan teknis akan tampak lebih lemah.
Reuters menambahkan bahwa fans ikut berbalik arah saat Brighton menghajar Chelsea 3-0. Suporter menuntut pemecatan Rosenior di tribun. Setelah laga, Rosenior mengakui dirinya “numb” dan “angry.” Ia juga meminta pemain bercermin pada performa mereka sendiri. Itu memperlihatkan tensi internal sudah mencapai titik kritis.
Kisruh Chelsea dan masalah manajemen yang tak kunjung selesai
Masalah Chelsea juga datang dari atas. The Guardian menyebut klub ini tengah menuju manajer permanen keenam sejak akuisisi Todd Boehly dan Clearlake Capital pada 2022. Itu angka yang sangat tinggi untuk klub sebesar Chelsea. Perubahan semacam ini biasanya merusak kontinuitas. Para pemain pun sulit mendapatkan identitas permainan yang stabil.
Chelsea juga masih dikritik karena model rekrutmen mereka. Guardian menyebut ada protes suporter terhadap strategi berbasis pemain muda. Klub kini mempertimbangkan lebih banyak rekrutan Premier League yang berpengalaman. Itu adalah pengakuan tidak langsung bahwa pendekatan sebelumnya belum bekerja maksimal. Dalam konteks itu, Rosenior benar-benar tampak seperti korban sistem yang lebih besar.
Reuters juga menulis bahwa Chelsea menjalani proses refleksi untuk penunjukan jangka panjang berikutnya. Klub ingin stabilitas, tetapi justru terus berganti arah. Setelah Maresca pergi pada Hari Tahun Baru, Rosenior masuk di tengah musim tanpa pramusim. Kondisi seperti itu sangat sulit untuk pelatih mana pun. Jadi, masalah manajemen jelas ikut membentuk kegagalan ini.
Kisruh Chelsea dan absennya pramusim yang sangat merugikan
Guardian menegaskan Rosenior tidak punya pramusim. Itu detail yang sangat besar. Pelatih baru butuh waktu membangun ritme latihan, kebiasaan pressing, dan pola serangan. Tanpa itu, ia harus bekerja sambil menghadapi pertandingan besar setiap pekan. Chelsea tidak memberi ruang yang cukup untuk stabilisasi.
Kekurangan waktu itu juga terlihat saat ia mencoba mengubah bentuk permainan. Reuters dan Guardian sama-sama menyebut Rosenior mengubah tim menjadi back five saat lawan Brighton. Hasilnya justru buruk. Chelsea tetap kalah 3-0, dan keputusan itu ikut dipertanyakan. Namun, perubahan taktik semacam ini sering lahir dari kondisi darurat, bukan dari kenyamanan.
Kisruh Chelsea makin parah karena cedera dan ketidakseimbangan skuad
The Guardian juga mencatat daftar cedera Chelsea sangat panjang. Cole Palmer, João Pedro, Reece James, Levi Colwill, Jamie Gittens, dan Estêvão Willian absen melawan Brighton. Itu kehilangan besar untuk klub yang ingin tetap bersaing di papan atas. Jika pemain inti hilang bersamaan, struktur tim akan langsung retak.
Namun, cedera saja belum cukup menjelaskan semua masalah. Reuters menulis Chelsea gagal mencetak gol dalam lima laga liga beruntun. Itu adalah rekor buruk sejak 1912. Situasi seperti ini menandakan masalah kolektif. Tim kehilangan ketajaman, kepercayaan diri, dan mungkin juga arah.
Kisruh Chelsea dan sikap pemain yang ikut memperburuk keadaan
Rosenior memang sempat mengkritik para pemain secara terbuka. Reuters menyebut pidatonya setelah Brighton sangat tajam. Tetapi defender Trevoh Chalobah justru membela skuad. Ia mengatakan para pemain sudah bekerja keras. Artinya, ada jarak narasi antara pelatih dan ruang ganti. Jarak seperti ini sering sangat berbahaya.
The Guardian juga menyinggung bahwa Chelsea mengoleksi banyak kartu kuning karena dissent dan sejumlah kartu merah musim ini. Itu menunjukkan disiplin tim sedang terganggu. Dalam situasi seperti itu, pelatih sulit menanamkan otoritas. Jadi, krisis Chelsea memang bukan persoalan satu laga. Ini soal budaya kerja yang tidak sehat.
Rosenior tampak seperti korban terakhir
Kalau membaca semua laporan itu, Rosenior memang terlihat seperti korban terakhir. Ia mewarisi tim yang sudah rapuhdatang tanpa pramusim. Ia harus menghadapi cedera, konflik ruang ganti, dan tekanan suporter. Lalu, ia ditempatkan di tengah sistem klub yang terus berubah. Itu kombinasi yang hampir mustahil untuk hasil bagus.
Barney Ronay di Guardian bahkan menyindir proyek BlueCo sebagai sesuatu yang sangat aneh. Ia menilai menyalahkan pelatih untuk semua ini terasa terlalu mudah. Sentilan itu sejalan dengan konteks yang muncul di laporan lain. Chelsea memang punya masalah struktural yang jauh lebih luas. Rosenior hanya menjadi wajah paling terlihat dari kekacauan itu.
Apa yang harus dibenahi setelah kisruh ini
Jika Chelsea benar-benar ingin keluar dari krisis, mereka harus mulai dari akar masalah. Pertama, klub harus membangun ulang hubungan ruang ganti. Kedua, mereka perlu memberi identitas yang konsisten kepada pelatih berikutnya. Ketiga, strategi rekrutmen harus lebih seimbang. Tanpa tiga hal itu, pelatih baru hanya akan mengulang siklus yang sama.
Reuters menulis Chelsea akan mencari kestabilan lagi dan melakukan refleksi. Itu langkah yang benar, tetapi datang sangat terlambat. Klub yang terus berganti manajer jarang bisa membangun kepercayaan. Pada akhirnya, masalah Chelsea bukan cuma di pinggir lapangan. Masalah utamanya ada di cara klub ini dikelola.
Kisruh Chelsea menunjukkan bahwa Liam Rosenior memang bukan satu-satunya sumber masalah. Ia lebih tampak seperti korban dari ruang ganti yang retak dan manajemen yang belum stabil. Saat tim kehilangan arah, pelatih sering menjadi tumbal pertama. Chelsea kini harus menjawab pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang duduk di bangku cadangan.
